Hama sebetulnya sangat berguna jika tidak dilihat dari sudut pandang manusia. Bahkan Secara Bahasa alam mungkin kita lah yang menjadi hama tersebut.
Yap terlebih istilah hama dibuat oleh manusia untuk menunjuk suatu organisme, baik hewan ataupun tumbuhan yang menggangu aktivitas, terutama untuk keberlangsungan hidup manusia.Namun masalahnya adalah justru kita lah yang membuat organisme tersebut menjadi hama. Tut ups. Walaupun manusia mana yang ingin disalahkan, manusia mana yang mau disalahkan. Tidak ada ! karena kita adalah manusia. Lebih baik kau diam. Istilahnya kau yang memulai kau juga yang mengakhiri. Jadi hewan maupun tumbuhan tersebut berdatangan berkembangbiak menjalar ditempat yang sudah kita jadikan sebagai pemukiman manusia, yang tadinya ditempati organisme tersebut . Ringkasnya mereka kehilangan habitat.
Sebab Sengaja maupun tidak Rantai makanan yang seharusnya berputar kita hentikan, serta predator yang semestinya ada malah kita singkirkan sehingga keseimbangan alam terguncang dan kita sendiri lah sang pencipta hama tersebut..
Sebagai contoh kecil seperti hewan siput, tikus, serangga dll adalah pemakan segala termasuk detritus atau sisa makanan dan kebulshitan manusia. Saat kita mengambil habitat mereka otomatis hewan tersebut langsung beradaptasi dengan lingkungan baru dan mereka mendapatkan beberapa skill baru sebagai konsekuensi dari adaptasi tersebut. Termasuk bagaimana cara mereka berkembangbiak hingga banyak dan semuanya menjadi buruk tatkala predator yang seharusnya berdampingan dengan hewan tersebut malah jauh dari perputaran rantai makanan. Karena pada umumnya kita manusia membenci, takut atau tak peduli dengan hewan yang berposisi sebagai predator.
Pertanyaan yang harus ditanyakan dalam diri kita adalah. Setelah mengambil alih habitat mereka apakah kita pernah berpikir pentingnya melestarikan atau bahkan menjaga ekosistem alam yang sudah menjadi ketentuan.


0 Komentar